Gunung Sinabung – Sibayak, Sumatera Utara 2010

Awal bulan Mei lalu kami berkesempatan untuk survey ke gunung Sinabung dan Sibayak yang terletak di kabupaten Karo, Sumatera Utara dan mengapit kota Berastagi.

Hari pertama kami naik ke kawah yang berada di sisi selatan gunung Sinabung. Kami tidak mendaki melalui rute umum pendakian yaitu dari danau Lau Kawar, melainkan naik dari desa Sukameriah, Gurukinanti Gurukinayan (± 1100 m). Jarak yang ditempuh dari desa ini menuju kawah adalah tiga jam (waktu “normal”nya dua jam), dengan mengambil jalur para penambang belerang di kawah tersebut.

Kawah di sisi selatan Sinabung, dilihat dari desa Sukameriah

Sekitar sepertiga perjalanan di awal masih melalui perkebunan dan lahan terbuka yang kemiringannya masih landai. Jalur selanjutnya memasuki hutan, terdapat sekali turunan dan selanjutnya… nanjak teruuusss…. Karena jalur ini jarang dilalui (penambang belerang tidak setiap hari ke kawah), maka pada beberapa tempat terdapat jalur yang sudah tertutup. Selain itu, kemiringan yang cukup terjal dikombinasikan dengan bebatuan lepas semakin menambah kesulitan dan juga bahaya di jalur ini. Tak heran, sering terdengar teriakan “Awas…! Batu…!” Lumayan kan kalau batu sebesar bola tennis mampir di kepala??

Setelah keluar dari hutan dan mendekati kawah, jalur mulai landai kembali TETAPI jalur menyempit serta di sisi kiri jalur terdapat jurang yang dalam. Salah langkah, bisa-bisa meluncur ke bawah…

mendekati kawah...

Akhirnya sampai juga di kawah dengan ketinggian sekitar 1869 m di atas permukaan laut. Manifestasi yang ada berupa fumarol dengan deposisi belerang di sekitarnya (solfatara). Harus berhati-hati di sini karena uap mengandung gas SO2 yang menyesakkan nafas, bikin batuk dan iritasi mata.

pemandangan dari kawah

Berhubung perjalanan hari pertama sudah sangat melelahkan, hari kedua kami putuskan untuk tidak naik ke puncak Sinabung. Kami putuskan untuk ke kawah gunung Sibayak terlebih dahulu yang relatif mudah karena sudah merupakan tempat wisata. Cukup berjalan selama 20 menit, sudah sampai di kawasan kawah Sibayak.

Memasuki kawasan kawah Sibayak

kawah Sibayak

Hari ketiga kami kembali ke gunung Sinabung untuk mendaki menuju kawah utamanya. Kali ini kami melalui jalur umum pendakian gunung Sinabung, yaitu melalui danau Lau Kawar yang terletak di ketinggian sekitar 1420 m.  Ada 4 pos pendakian di jalur ini. Medan yang berat terdapat di dua lokasi. Pertama, sebelum pos II, dimana terdapat tanjakan yang sangat terjal hingga 60 derajat. Yang kedua yaitu selepas pos IV sebelum puncak yang dikenal dengan nama “tanjakan patah hati” dengan kemiringan hingga 80 derajat dan berupa bebatuan yang solid. Tanjakan ini sudah berada di daerah terbuka sehingga dapat melihat danau Lau Kawar di kejauhan. Bagi yang ngeri ketinggian, sebaiknya tidak melihat ke belakang saat mendaki di tanjakan ini…

Puncak Sinabung, dilihat dari danau Lau Kawar

Danau Lau Kawar, dilihat dari "tanjakan patah hati"

Akhirnya, setelah 3,5 jam perjalanan, pada ketinggian sekitar 2420 m, terdapat dataran luas untuk beristirahat yang dikelilingi oleh puncak-puncak gunung Sinabung. Puncak yang tertinggi, puncak utama memiliki ketinggian 2475 m. Selain puncak utama, puncak ketiga merupakan puncak yang popular di kalangan para pendaki gunung. Penduduk sekitar menamakannya sebagai puncak Batu Segal dan lebih popular sebagai “Flash Gordon”. Sayang, karena tertutup kabut, kami tidak bisa mengambil foto flash Gordon. Selain itu, karena kondisi cuaca tidak memungkinkan, kami tidak dapat turun ke kawah sebab terdapat akumulasi gas SO2 yang beracun.

puncak utama gunung Sinabung

jalan setapak menuju kawah Sinabung

puncak batu Segal a.k.a. Flash Gordon

About these ads

Posted on May 31, 2010, in geochemistry, geothermal, travel. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Indah emang, Sinabung dan Sibayak. brastagi juga bagus.

  2. hasbi nurainun

    sungguh indah ciptaan Allah swt
    maha kuasa atas segala ciptaanNya
    akhirnya saya diberi kesempatan mendaki gunung sinabung
    alhamdulillah…
    terima kasih ya Allah…dan buat semuanya

  3. trims atas upload alam yg indah ini…..
    truslah berbagi cerita tentang track ini……
    saya jadi teringat 2 pendakian saya di tahun 1985 dan 1989….. ada rasa untuk ingin kembali …… minimal bermalam di tepi lau kawar…. sembari menyeruput kopi hangat tatkala kabut turun menjelang senja……. seseorang memetik gitar….. seseorang memulai cerita…… cerita semua yang ada…… semua mengalir…. semua bercampur….. dan pasti semua jadi kenangan…..

  4. ……………………………………………………………………………………………..aku…………………………………………………………………………………………juga………………………………………………………………………………………..tinggal…………………………………………………………………………………….di……………………………………………………………………………………………desa………………………………………………………………………………………kutarayat………………………………………………………………………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: