geochemistry
Ilmu geokimia merupakan cabang ilmu kimia yang digunakan untuk memecahkan berbagai permasalahan kebumian dan untuk memahami bumi serta bagaimana bumi bekerja (W.M. White, Geochemistry, 2007). Sumber lain juga menyebutkan bahwa geokimia adalah ilmu yang mempelajari sifat spesi kimia di bumi serta evolusinya selama sejarah bumi ini. Tentu saja masih banyak definisi lain tentang geokimia, namun dua deskripsi di atas sudah cukup mewakili.Geokimia sendiri terdiri dari berbagai sub bahasan (atau turunan)yang sebenarnya satu sama lain masih saling terkait, tidak ada pembagian yang benar-benar terpisah. Beberapa turunan dari geokimia antara lain:
- Organic geochemistry. Mempelajari seluk beluk senyawaan organik yang terdapat di bumi, biasanya banyak digunakan di bidang minyak dan gas bumi untuk menentukan source rock, maturasi, oil fingerprint, dll.
- Environmental geochemistry. Mempelajari spesi kimia di lingkungan dan efek manusia (serta teknologi) terhadapnya.
- Forensic geochemistry. Forensik adalah cabang ilmu yang mengaplikasikan teknologi ilmiah untuk membantu penemuan fakta di dalam suatu perkara hukum. Dalam hal ini, geokimia adalah teknologi ilmiah tersebut.
- Biogeochemistry
- Isotope geochemistry
- Etc
Pembahasan lebih detail mengenai turunan geokimia tersebut insya Allah akan dibahas terpisah pada tulisan-tulisan selanjutnya. Tapi gak janji loh.. ![]()
- Impact factor untuk jurnal geokimia internasional relatif rendah. Yang tertinggi impact factor 3.887 sementara beberapa jurnal geokima lain hanya berkisar 1 – 2.
- Di jurusan kimia perguruan tinggi, tidak ada mata kuliah yang mengajarkan geokimia secara komprehensif, kalaupun ada hanya membahas organic geochemistry dan biomarker (seperti di kimia FMIPA UI tempat saya dulu kuliah, mungkin juga di beberapa perguruan tinggi lain). Memang, jadi lebih spesifik dan terarah, tetapi belum menggambarkan geokimia itu sendiri. Mungkin karena ketiadaan dosen yang memiliki spesialisasi geokimia. Akibatnya, mahasiswa kurang familiar dengan geokimia, lebih jauh lagi: tidak ada (sedikit) riset-riset geokimia yang dilakukan. Memang, di fakultas kebumian juga diajarkan geokimia. Tapi tidak sebagai core atau peminatan. Sebatas pelengkap (tapi tidak penderita kok..
Meski kurang “gemerlap”, geokimia tetap menjadi pemain penting dalam berbagai masalah kebumian dan lingkungan. Beberapa contoh dari hal ini dapat ditemui pada posting-posting yang ada di blog ini.
Jadi, masih berminat belajar geokimia??

Nggak berminat ras
jyaah maan… pertanyaan retoris man.. gak perlu dijawab :p
agak sulit keknya..
setia ma geofisika ajah ah…
SANGAT!!!!